ruang nostalgia
Ruang Nostalgia
Sebelum mulai menyelam dalam cerita saya, izinkan saya
memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Nama saya Nasya Azzahra kalau kalian mau lebih akrab bisa panggil saya aca.
Cerita ini saya mulai ketika jam menunjukkan pukul 3 sore,
dimana laptop dan handphone menemani saya untuk bernostalgia. Entah kenapa semakin
lama rasa rindu menyelinap, masuk dan perlahan-lahan membunuh segalanya. Ini
tentang kawan-kawan yang rela pulang menunggu ketika hujan reda, tentang teman
yang berjalan sejajar ketika bel istirahat berbunyi, tentang suasana yang
mungkin tidak bisa terulang ke dua kalinya. Kisah lara dan tawa.
Latarnya saya benar-benar terjadi di sekolah masa dimana menurut
saya, semua waktu istirahat akan tersita karena belajar, di mana jam bermain berkurang
karena menuju sesuatu yang serius. Kalian tahu kapan masa itu terjadi? masa itu
terjadi ketika saya duduk di kelas 9. Dimana semua orang berfikir akan sibuk dengan
waktu yang terasa sedikit namun nyatanya kita lebih bisa banyak beristirahat
bukan? Garis besar dari cerita ini adalah tentang ruang nostalgia yang terbuka
lebar untuk pengisi cerita warna – warna di hidup saya. Tentang mereka selama 3
tahun dalam baju berwarna putih-biru.
Baik akan saya mulai, cerita ini terjadi ketika saya masuk ke
kelas 9 dan mendapatkan kelas bagian G. Kelas yang di mana isinya semua manusia
– manusia ajaib yang amat sangat menyenangkan!
Ada manusia yang pintar namun menyebalkan! Manusia dengan banyak gaya
namun pendiam! Manusia nakal namun sangat mnyenangkan! Intinya saya sebut
mereka dengan sebutan 'mejikuhibiniu'. Kalian tau betapa bahagianya saya ketika
bertemu dengan mereka? Bersosialisasi dengan mereka, bahkan menyukai salah satu
dari mereka. Karena mereka hidup saya penuh cerita, karena mereka saya merasa jadi
lebih berwarna.
Kalau kalian merasakan, kalian akan tau rasanya senang dan sedih
dalam satu situasi. Ini benar-benar menyenangkan! Duduk melingkar di satu meja,
berbagi cerita, menyalurkan suara tawa, dan memeluk ketika ada yang menangis.
Tapi.. seketika semua itu berakhir di mana pengumuman dari suara speaker menghentikan
langkah kami hanya untuk mendengar 'Itu benar?' Saat itu yang saya rasakan hanyalah
rasa senang tidak ada rasa yang lain lagi. Bahkan saya juga tidak mengucapkan
atau berpelukan apa" ketika pengumuman bahwa belajar di rumah akan di
adakan dua minggu. Karena pikiran yang ada kami masih bisa bertemu dan melingkar
di meja yang sama.
Namun nyatanya, semua angan – angan di tiup menghilang bersama
harapan – harapan yang di bangun sebelum dua minggu. Di mana kita berakhir dengan
layar tanpa bisa menggenggam erat untuk mengatakan "semangat di sekolah
barunya, jangan lupakan saya!" Ah nyatanya, kata – kata itu hanya terkirim
lewat tombol send yang berbentuk kertas. Bukan dari mulut yang di awali
tangisan haruan dan kemudian hamburan pelukan.
Kawan, ingatkah ketika kita berjanji untuk berkumpul di tengah
lapangan dan saling memeluk erat ketika kelulusan? kalian sudah merencanakan baju
mana yang akan kalian tampilkan di hari yang special? Saya harap kalian tidak
kecewa. Ini rencana tuhan kita seperti ini karena keadaan. Kalian boleh marah kalian
boleh sedih karena itu rasa manusiawi yang wajar di rasakan oleh orang – orang
yang tidak bisa mewujudkan harapan – harapan nya.
Saya harap... tahun ini benar – benar memberi pelajaran bagi
setiap orangnya, banyak hikmah yang bisa kalian ambil masing – masing . Seperti
saya, yang memberi simpulan akhir bahwa tahun ke depannya saya harus lebih menikmati
proses yang ada, pelajaran di setiap jam, dan rasa di setiap waktunya. Intinya bersyukur dengan apa
yang sedang di jalankan. Tidak menunda atau mempercepat waktu tapi nikmati apa
yang ada.
Teruntuk kawan – kawan di semua kisah hidup saya, semoga klian senantiasa bahagia dan sukses di masa depan. Jangan lupa untuk kembali di mana asal mula kita belajar, jangan lupa bertegur sapa ketika bertemu. Meski berjarak, sapaan mu akan tersampaikan dan menutupi sedikit dari banyaknya kerinduan.
Satu pesan dari saya, jangan lupa bahwa perpisahan bukan akhir dari segalanya.. tapi perpisahan adalah pertemuan yang tertunda.
Semangat kawan!! Sampai bertemu di lembar berikut dengan
buku yang masih sama!

Comments
Post a Comment